Catatan · Non Fiksi

Akankah Kita Melemahkan Diri?

Awalnya saya akan memposting tulisan dengan judul “I’m Not Brave to Hold and Realize My Dream.” Tapi setelah berpikir ulang, saya kembali mempertimbangkannya.

Muncul pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa berkelebat di pikiran.

“Akankah aku menjadi seorang provokator yang buruk?”

“Akankah saya mengajak orang lain untuk menyerah pada mimpi dan dirinya walau secara tidak langsung?”

“Akankah saya stuck pada situasi ini?”

“Haruskah seperti itu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul hingga menimbulkan konflik batin dalam diri.

Hingga akhirnya, hari ini saya mendapatkan secercah pencerahan yang ingin saya bagi untuk semua 🙂

Dulu, saya pernah terlibat dalam suatu pembicaraan mengenai tujuan masa depan dengan ibu saya. Ibu saya membebaskan apapun pilihan kuliah saya. Beliau mengatakan bahwa semua terserah saya karena saya yang akan menjalaninya. Selama itu baik, dapat dipertanggungjawabkan, dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya (baik akademik maupun biaya administrasi). Walau memang ibu saya masih kurang setuju dengan universitas yang saya tuju, karena terlalu jauh katanya.

Namun, beberapa waktu lalu ibu saya menyarankan (lebih cenderung memaksa sih) agar saya masuk jurusan pendidikan luar biasa atau jurusan pendidikan lainnya. Mungkin, ibu saya sudah bicara dengan salah satu tante yang memang menuntun saya untuk masuk jurusan tersebut, karena lebih mudah mencari pekerjaan.

Saya merasa down, speachless, marah, kecewa, dan sebaginya. Selama ini saya selalu bermimpi mengenai masa depan. Seperti kata Harry David Thoreau, “Jalanilah hidup seperti yang kau bayangkan.”

Saya ingin hidup seperti itu, saya menjadi tidak bersemangat. Hingga tertanam kalimat ‘Aku tidak berani menggenggam dan mewujudkan mimpiku, aku sudah pasrah pada takdir. Sudah tidak yang bisa aku usahakan lagi’ dalam hati dan pikiran saya.

Namun, setelah sekian waktu saya lalui. Banyak hal yang mulai mendorong saya untuk berpikir terbuka.

Mulai dari status teman FB, “Tetap jadi produktif walau tidak bekerja di kantor karena tidak diizinkan.

Ini menyadarkan saya bahwa, ketika ternyata dalam skenario-Nya saya tidak memerankan peran yang diharapkan, walau terasa sakit saya masih bisa tetap produktif. Jadi, walau pun nanti saya tidak menjadi seseorang yang saya bayangkan dan cita-citakan, saya masih bisa berperan dalam bidang itu walau tanpa profesi tersebut.

Hal kedua yang membuat saya sadar adalah jawaban teman saya menganai salah satu pertanyaan yang saya ajukan di ask.fm

Describe me in a color.

Ada 3 jawaban :

1. mejikuhibiniu

Ini arbsurd banget jawabannya, intinya dia bilang saya itu ‘pendebat’ yang baik. Amin 🙂

2. Black

Dia bilang, saya adalah pribadi seperti yang selalu saya katakan, ‘dark but elegant’.

3. Peach

Dia bilang, ‘soft outside, strong inside’.

Di sini saya mulai sadar, jika orang lain melihat saya sebagai sosok yang berbakat dan kuat. Mengapa saya harus melemahkan diri?

Jika banyak orang yang percaya agar saya memimpin kelompok dan memegang tanggung jawab, mengapa saya harus merendahkan diri?

Ketika orang iri dengan kekuatan yang Allah beri pada saya, mengapa saya harus iri pada orang yang memang terlahir berbea dengan saya?

Dan, mengapa ketika saya memang sadar bahwa ada takdir, mengapa saya harus bersikukuh pada hal yang belum pasti?

Ketika ibu saya hanya menyarankan, mengapa tidak saya coba buktikan bakat dan minat kita?

So, guys….

Lihatlah sekitar kita, bagaimana orang lain menatap kagum keahlian yang kita miliki (belum tentu akademik).

Lihatlah sekitar kita, bagaimana tatapan iri, benci, dan meremehkan dari mereka. Mengapa tidak kita buktikan diri yang sebaik-baiknya, tentu tanpa kesombongan.

Ketika orang lain beranggapan baik kepada kita, mengapa malah diri kita sendiri yang memperburuk diri?

Ketika orang lain menatap kagum pada kita, mengapa malah diri kita sendiri yang merendahkan diri.

Ketika orang lain menatap kita sebagai sosok kaya hati, mengapa malah diri sendiri yang memiskinkan hati?

Ketika orang lain menatapmu sebagai sosok yang kuat, mengapa malah diri kita sendiri yang melemahkan diri?

~~~

Tulisan ini untuk semua yang dalam masa terpuruk atau bersedih atau bahkan galau karena alasan apa pun.

Ayo kita tersenyum dan tidak lagi melemahkan diri. Semoga suatu saat, kita bisa bertemu sebagai orang sukses ^_^

Mimpinya jangan terlalu digenggam lho, ya!

Iklan

2 thoughts on “Akankah Kita Melemahkan Diri?

  1. Oh sensitive kulit bayi aku benar-benar tersentuh sama tulisanmu ini but ada suatu hal yang belum kamu ketahui tentang dirimu sendiri, semoga saja ada waktu buat aku mengungkapkan itu padamu /ehciye/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s