Catatan · Non Fiksi

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang) dan Masa Kanak-Kanak

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang) adalah gangguan kepribadian yang bisa muncul karena beragam latar belakang. Gangguan kepribadian ambang ditandai dengan mood yang kacau dan hubungan yang berantakan dengan orang lain, self image yang tidak stabil, dan kurangnya control impuls. Gangguan Kepribadian ini kebanyakan dialami oleh wanita daripada pria dan sering dialami oleh masa akhir remaja dan cenderung tidak ditemukan pada seseorang dengan usia di atas 40 tahun. Menurut Kenberg (tokoh yang memperkenalkan Borderline Personality Disorder pertama kali), kegagalan di masa kanak-kanak untuk membangun sense of self yang kohesif mengacu pada kepribadian ambang. Sedangkan menurut mahler, kegagalan menguasi tantangan perkembangan dari pemisahan – individu di awal kehidupan mendasari terjadinya kepribadian ambang.
Salah satu faktor yang menjadi kunci dari timbulnya kepribadian ambang adalah kehidupan masa kanak-kanak seseorang. Mulai dari kegagalan membangun sense of self yang kohesif pada masa kanak-kanak, pengalaman belajar secara observasional saat masih kanak-kanak, over proteksi dan otoritanisme orang tua turut menuntun pada trait kepribadian ambang, pengalaman penganiayaan fisik maupun seksual, dsb.
Inilah pentingnya masa kanak-kanak. Banyak orang tua yang menganggap sepela hal-hal yang berhubungan dengan hal psikis yang kurang tampak dari perkembangan anak. Pola asuh yang otoriter dan seringnya memarahi hingga maaf ‘memaki’ anak dan menghakimi anak dengan kata-kata yang menyakitkan, memukuli anak, tidak membiarkan anak mengembangkan hal-hal yang mungkin menjadi bakatnya. Belum lagi faktor lingkungan sekitar yang juga sangat bepengaruh pada kondisi psikis anak. Dampak psikis tidak dapat dilihat semudah dan secepat dampak fisik. Jika tangan anak terluka, jelas orang tua akan langsung melihat darah yang keluar. Akan tetapi, tidak semua orang tua dan lingkungan peka pada dampak psikis yang terjadi pada anak. Tidak sengaja saja melontarkan kalimat menyakitkan, atau tanpa peduli kita selalu memarahi anak tanpa adanya pemahaman atas apa yang mereka lakukan bisa menorehkan luka yang kasat mata. Tidak semua orang tua dan lingkungan tau luka seperti apa yang ada pada psikis mereka. Dampak apa yang akan menimpa mereka. Dan, kehidupan masa kanak-kanaklah yang menjadi pondasi psikis mereka di masa depan. Anak yang sering mengalami kekerasan cenderung menjadi orang pemarah, pendendam, dan pembangkang. Dan besar kemungkinan mereka akan melakukan hal sama pada anak mereka nanti sebagai bentuk balas dendam atau peluapan emosi dari masa lalu mereka.
Karena itulah, ayo kita sama-sama peka terhadap kondisi psikis anak di sekitar kita. Bukan hanya Borderline Personality Disorder saja yang bisa disebabkan oleh masa kanak-kanak yang gagal. Masih banyak personality disorder lain yang bisa timbul sebagai dampaknya.
Daftar Pustaka :
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s