Catatan · Non Fiksi

Jika Aku Pergi, Akankah Semua Baik-Baik Saja?

Seberapa menyakitkan hari-harimu selama ini?

Seberapa sakit yang engkau pendam tanpa ada tempat untuk mengadu dan bersedu?

How painful must it have been?

Ada masa, di mana tidak ada sepasang mata pun yang meneduhkan, tidak ada satu suara pun yang menenangkan, tidak ada satu tangan pun yang menepuk punggungmu, tidak ada apa pun yang menjadi pelipur laramu. Pada saat itu, sekelebat permohonan agar bisa pergi dari dunia ini mulai muncul. Sampai ada satu pemikiran yang tertanam, “Jika aku pergi, akankah semua baik-baik saja?”

 

Mungkin sejak lama atau bahkan sudah menahun. Beban-beban erat menumpuk di pundakmu, perasaan sedih, marah, kecewa, tidak berdaya, atau perasaan serupa kita alami. Merutuki diri sendiri, “kenapa tidak satu pun menyayangiku,” atau mungkin ada banyak ketakutan tentang pandangan orang lain pada diri kita.

Rasanya, tidak satu pun yang berjalan dengan baik jika kita terlibat di dalamnya. Bahkan tak jarang, pikiran-pikiran serupa “apakah aku memang terlahir sebagai sebuah kesalahan?” muncul.

Pada saat pikiran-pikiran itu muncul, coba lihat sekitarmu. Bukan, bukan orang-orang yang sibuk dengan gadget mereka. Tapi coba pandangi senyum-senyum anak kecil, pandangan khawatir teman-teman dekatmu, kasih sayang ayah dan ibumu.

Mungkinkah semua baik-baik saja tanpa dirimu? Tidak, karena kamu punya posisi yang tidak bisa diisi oleh orang lain. Posisi anak untuk orang tuamu, posisi sahabat untuk teman-temanmu, posisi ibu atau ayah untuk anank-anakmu. Kamu juga punya peran di dunia ini. Apa pun itu peranmu, dunia ini akan terus membutuhkanmu.

Kenapa masih ragu pada kasih sayang mereka? Kenapa harus khawatir dengan pandangan orang lain pada diri kita? Kita hidup bukan karena mereka, bukan pula untuk mereka. Jika pandangan-pandangan itu terlalu mengusikmu, anggap saja mereka memandangmu demikian karena itu adalah perannya untuk menjadi evaluator dalam hidupmu 😊

 

Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berjalan sesuai apa yang terbaik bagimu. Tuhan kita tau apa yang terbaik untuk hambanya. Jika memang tidak ada satu pun bahu untuk mengadu dan bersedu, masih ada sajadah untukmu mengadu dan bersedu dalam sujud.

 

Untuk diriku dan saudara saudariku, kita punya peran masing-masing 😊

Kita tidak pernah terlahir sebagai sebuah kesalahan. Dan semuanya tidak akan baik-baik saja jika dirimu pergi.

 

Surabaya, 3 Desember 2017

Prily Carla Marita

Terinspirasi dari https://www.youtube.com/watch?v=Z_IzyTwfDTk

 

#PenaMilenial #gen1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s