Catatan · Non Fiksi

Selalu Dalam Dekap

luv

Benar bahwa doa yang mengikis jarak.

Benar bahwa doa yang memberi temu.

Benar bahwa doa yang menjadikan dekat.

Beberapa hari lalu, serentetan kejadian duka terjadi di Surabaya. Terjadi pengeboman di tiga titik gereja dan berlanjut dengan titik lainnya. Kejadian ini cukup gempar, cukup menyisakan keresahan bagi warga Surabaya. Hari pertama kejadian, saya turut berduka atas kejadian ini. Hari berikutnya, karena banyak berita simpang siur tentang situasi Surabaya yang cukup heboh saya merasa perlu memberi tau keluarga saya tentang kondisi saya di Surabaya agar mereka tidak khawatir dan memang saya baik-baik saja. Sebagai antisipasi apabila terjadi sesuatu pada saya, keluarga tidak terlalu kaget.

Sudah sejak lama, kebiasaan meminta doa ini saya lakukan. Sejak saya menempuh pendidikan di kota yang berbeda (asal saya Pamekasan, kuliah saya di Surabaya), saya terbiasa meminta doa pada momen-momen tertentu. Namun, ketika teman-teman lain begitu khawatir dengan kondisi teman yang di Surabaya atau bahkan orang tua lain langsung menanyakan kabar anaknya saat berita kejadian ini tersebar, ibu saya tidak.  Hari itu saya menelepon ibu saya. Saya meminta doa beliau agar saya baik-baik saja di Surabaya. Dan Ibu saya menjawab, “iya, selalu Mamam doain Mbak. Mama doain setiap waktu, gak usah khawatir.” Saya hanya bisa tertegun mendengarnya.

Ibu saya begitu tenang, beliau sangat yakin bahwa Allah akan menjaga anaknya meski berada jauh dari dirinya. Ibu saya begitu yakin bahwa saya selalu ada dalam dekapannya, melalui doa. Perempuan terhebat dalam hidup saya ini sangat yakin, bahwa saya akan baik-baik saja sebab di setiap doanya beliau selalu mengiba pada Allah untuk menjaga anaknya.

Lalu saya kembali mengulas, hampir 2 tahun saya di Surabaya. Selama ini, hanya sekali Mama mengatakan rindu dan meminta saya untuk pulang. Itupun beliau lakukan saat beliau sakit kemarin. Padahal, ayah dan tante saya sangat sering bertanya kapan saya akan  pulang. Bahkan ayah saya sangat sering mengatakan rindu. Dulu saya pikir, barangkali memang Mama memikirkan kesibukan saya, jadwal kuliah saya, ongkos yang harus dikeluarkan, dan sebagainya. Saya pikir beliau memang tidak merasa rindu. Tapi sekarang saya paham bahwa bukannya tidak rindu, tapi Mama sudah sangat yakin saya akan baik-baik saja karena ada Allah yang menjaga ❤. Bukannya tidak rindu, tapi Mama sudah mendekap saya lewat doa di setiap waktunya ❤.

Memang ada jarak antara rumah dan tempat saya hidup sekarang, tapi tidak ada jarak dari sesuatu yang saya sebut rumah dengan saya.

Kami begitu dekat karena doa, kami saling mendekap lewat doa ❤

Kami begitu dekat karena doa, kami saling menjaga lewat doa ❤

Terima kasih, Ma. Sudah selalu mau mendekap Prily ❤

Iya, benar. Ada Allah yang selalu menjaga 🙂

 


 

Surabaya, 5 Ramadhan 1998

03.05

Yang sedang merindu ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s